Di era sekarang ini hidup terasa serba cepat. Mau cari informasi tinggal buka Google atau TikTok, mau belanja cukup lewat aplikasi, bahkan mau terkenal juga bisa hanya karena satu video viral. Teknologi memang membuat banyak hal jadi lebih mudah, tapi tanpa sadar juga membentuk pola pikir baru di kalangan anak muda: ingin semuanya cepat berhasil.
Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan generasi sekarang, terutama mahasiswa. Setiap hari kita melihat orang-orang di media sosial memamerkan pencapaian mereka. Ada yang umur 20 tahun sudah punya bisnis sendiri, ada yang bisa menghasilkan uang jutaan dari konten, bahkan ada yang terkenal hanya dalam waktu singkat. Konten seperti itu akhirnya membuat banyak anak muda merasa harus sukses secepat mungkin.
Masalahnya, yang terlihat di media sosial biasanya cuma hasil akhirnya saja. Orang jarang memperlihatkan proses gagal, capek, jatuh, atau tekanan yang mereka alami sebelum berhasil. Akibatnya, banyak anak muda mulai berpikir kalau sukses itu bisa didapat tanpa proses panjang. Ketika kenyataan hidup tidak sesuai ekspektasi, rasa minder dan kecewa muncul dengan mudah.
Banyak mahasiswa sekarang juga sering merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain di internet. Ada yang merasa insecure karena belum punya penghasilan sendiri, belum punya prestasi besar, atau hidupnya terasa biasa saja. Padahal, setiap orang punya waktunya masing-masing. Media sosial sering membuat kita lupa bahwa kehidupan nyata tidak selalu berjalan secepat konten di layar.
Selain itu, budaya instan juga membuat sebagian anak muda jadi kurang siap menghadapi kegagalan. Sedikit gagal langsung ingin menyerah. Baru mencoba sekali lalu merasa tidak berbakat. Padahal, proses belajar memang tidak selalu nyaman. Semua orang sukses pasti pernah mengalami gagal, ditolak, bahkan diremehkan sebelum akhirnya berhasil.
Fenomena ini juga terlihat di dunia pendidikan. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih fokus mengejar nilai daripada memahami ilmu. Yang penting tugas selesai dan bisa dikumpulkan tepat waktu. Bahkan sekarang banyak yang terlalu bergantung pada teknologi untuk mengerjakan tugas tanpa benar-benar memahami isi yang dikerjakan. Teknologi memang membantu, tapi kalau digunakan secara berlebihan justru bisa membuat kemampuan berpikir menurun.
Di sisi lain, media sosial juga membuat standar kesuksesan menjadi tidak realistis. Anak muda jadi merasa harus cepat kaya, cepat terkenal, dan cepat berhasil sebelum usia tertentu. Kalau belum mencapai itu, mereka merasa gagal. Padahal hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai.
Menurut saya, yang sebenarnya hilang dari generasi sekarang adalah kemampuan menikmati proses. Banyak orang ingin hasil besar, tapi tidak mau melewati tahap kecil yang membentuk diri mereka. Padahal justru dari proses itulah seseorang belajar tentang kerja keras, konsistensi, dan cara bertahan saat keadaan tidak sesuai harapan.
Era digital sebenarnya memberikan banyak peluang positif untuk anak muda. Kesempatan belajar terbuka luas, peluang usaha lebih mudah, dan akses informasi semakin cepat. Namun, semua itu akan sia-sia kalau generasi muda hanya ingin hasil instan tanpa mau berkembang secara perlahan.
Karena pada akhirnya, kesuksesan yang benar-benar bertahan tidak datang dalam semalam. Semua butuh waktu, usaha, dan proses panjang. Tidak apa-apa berjalan pelan, asalkan terus berkembang. Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sukses, tetapi siapa yang mampu bertahan dan terus belajar sampai berhasil.
Penulis: Debi Yuliani (2301110091), Mahasiswa Universitas Tridinanti Palembang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































