YOGYAKARTA, 7 JUNI 2026 – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan observasi lapangan di Pasar Tradisional Ngasem, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta pada Jum’at 5 Juni 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan bertujuan mengkaji peran nyata pasar tradisional dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan dan SDG 2: Tanpa Kelaparan.

Pasar Ngasem berlokasi di Jalan Polowijan, Kelurahan Patehan, di kawasan cagar budaya yang terhubung langsung dengan kompleks wisata Taman Sari. Pasar ini dahulunya dikenal sebagai pasar burung sebelum bertransformasi menjadi pusat kuliner tradisional sekaligus pasar sembako. Selama observasi, mahasiswa melakukan wawancara langsung dengan pedagang salah satunya telah berjualan di Pasar Ngasem sejak era tahun 1980-an serta dua pengunjung, yakni warga lokal dan wisatawan domestik. Pasar ini dikelola oleh Dinas Pasar Kota Yogyakarta dengan lurah pasar sebagai penanggungjawab operasional harian, dan beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 14.00 WIB.
Dari sisi SDG 1, tim observasi menemukan bahwa sistem pengelolaan Pasar Ngasem sangat mendukung keberlangsungan usaha mikro. Tidak ada biaya pendaftaran atau uang pangkal untuk berjualan; pedagang hanya dikenakan iuran kebersihan sebesar Rp20.000,00 per bulan. Kebijakan ini membuka akses ekonomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah tanpa beban modal awal yang besar. Dari sisi SDG 2, berbagai pangan tradisional tersedia dengan harga terjangkau wingko dijual seharga Rp3.000,00, buah potong Rp5.000,00, dan nasi uduk beserta teh hanya Rp8.000,00, memastikan akses pangan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Di sini tidak ada uang pangkal buat jualan. Bayarnya cuma buat sampah, dua puluh ribu sebulan,” ungkap salah seorang pedagang yang telah berjualan di Pasar Ngasem selama puluhan tahun. Seorang pengunjung pertama kali dari luar kota menambahkan, “Saya tidak tahu ternyata di sebelah sana ada zona sembako juga. Ke sini taunya buat kuliner aja.”
Di samping potensinya, tim juga mengidentifikasi sejumlah tantangan. Pengelolaan sampah di zona kuliner dinilai belum optimal, dengan masih ditemukannya sampah sisa makanan yang dibuang sembarangan. Ketimpangan kunjungan antara zona kuliner yang ramai dan zona sembako yang sepi turut menjadi perhatian, karena berdampak pada distribusi pendapatan pedagang yang tidak merata. Selain itu, beberapa pengunjung baru melaporkan adanya praktik penetapan harga yang tidak transparan.
Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa merekomendasikan peningkatan sistem pengelolaan sampah terpilah, penandaan zona pasar yang lebih jelas, dan sosialisasi etika berdagang bagi seluruh pedagang. Ke depan, mahasiswa berharap hasil observasi ini dapat menjadi masukan konkret bagi Dinas Pasar Kota Yogyakarta untuk menjadikan Pasar Ngasem sebagai pasar tradisional percontohan berbasis SDGs. Melalui kegiatan mata kuliah berbasis proyek ini menegaskan komitmen dalam mendorong keterlibatan mahasiswa secara langsung pada isu-isu pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.

Dosen Pengampu: Dr. Amir Fatah S.Pd., M.Pd. | Program Studi: Ilmu Komunikasi FISIP UNY | Lokasi Observasi: Pasar Ngasem, Jl. Polowijan, Kelurahan Patehan, Kraton, Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































