Gresik, 8 Juli 2026 Bedanten, Gresik — Di sebuah dapur sederhana berdinding bata di Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, aroma ikan bandeng yang digoreng bercampur bumbu memenuhi ruangan. Di sanalah Ibu Ibah, Ketua RT 09 RW 03 sekaligus pemilik usaha tambak bandeng, tengah sibuk mempraktikkan resep baru yang selama beberapa pekan terakhir ia pelajari bersama sekelompok mahasiswa yang datang ke desanya.
Desa Bedanten bukan nama asing bagi pegiat perikanan tambak di pesisir utara Gresik. Nama desa ini konon berasal dari istilah “Bedah Seganten” yang berarti lautan yang berubah — jejak sejarah panjang kawasan pesisir yang perlahan berkembang menjadi permukiman dan area budi daya tambak. Berbatasan langsung dengan aliran Bengawan Solo, desa ini memiliki pasokan air tambak yang relatif stabil sepanjang tahun, menjadikan bandeng sebagai komoditas andalan yang telah lama menopang perekonomian warganya.
Namun di balik melimpahnya hasil tambak, ada persoalan klasik yang selama ini menghambat nilai jual bandeng Bedanten: mayoritas warga masih menjual ikan dalam kondisi segar, atau paling jauh hanya mengolahnya menjadi otak-otak sederhana. Nilai tambah dari komoditas unggulan ini pun belum benar-benar tergarap maksimal.
Ketika Bandeng Bertemu Inovasi
Kondisi itulah yang mendorong lahirnya program pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal yang digelar sepanjang Juni hingga Juli 2026 di kediaman Ibu Ibah. Program ini menyasar satu tujuan besar: membuka jalan bagi diversifikasi produk olahan bandeng agar bernilai jual lebih tinggi, sekaligus membekali mitra dengan kemampuan mengemas dan memasarkan produk secara digital.
Tiga produk menjadi andalan dalam pelatihan ini, yakni nugget bandeng, kekian bandeng, dan sambal bandeng. Ketiganya dipilih bukan tanpa alasan — selain memiliki potensi pasar yang menjanjikan, bahan baku utamanya sudah tersedia melimpah di tambak milik warga sendiri, sehingga tidak memerlukan investasi besar untuk memulai usaha rumahan berbasis olahan ikan.
Proses pendampingan berlangsung melalui lima tahapan yang disusun secara sistematis: mulai dari sosialisasi, pelatihan praktik langsung, penerapan teknologi sederhana, pendampingan disertai evaluasi berkala, hingga perancangan keberlanjutan usaha pascaprogram.
Belajar Langsung dari Dapur ke Dapur
Tahap sosialisasi menjadi pembuka rangkaian kegiatan, di mana tim pendamping duduk bersama Ibu Ibah untuk memetakan kebutuhan dan menyusun materi seputar inovasi produk, strategi kemasan, hingga teknik pemasaran yang relevan dengan skala usaha rumah tangga.
Selanjutnya, pelatihan digelar langsung di dapur rumah Ibu Ibah. Tak hanya diajari cara mengolah bandeng menjadi tiga produk andalan tadi, ia juga mendapat tips memilih bahan baku berkualitas, teknik mengemas produk agar tampil menarik dan higienis, hingga cara membuat label kemasan sederhana. Sesi pemasaran pun tak luput dari perhatian — mulai dari cara berjualan lewat WhatsApp, teknik memotret produk dengan kamera ponsel, sampai strategi menetapkan harga jual yang menguntungkan.
Yang menarik, pendekatan yang dipakai bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan praktik langsung dari awal hingga akhir. Metode ini dinilai lebih efektif membekas di ingatan dan keterampilan mitra dibanding sekadar penyuluhan satu arah.
Sentuhan Teknologi Sederhana yang Mengubah Cara Berjualan
Salah satu terobosan penting dalam program ini adalah pengenalan WhatsApp Business sebagai kanal pemasaran resmi usaha Ibu Ibah. Sebelumnya, transaksi jual-beli hanya mengandalkan komunikasi konvensional dari mulut ke mulut. Kini, dengan akun WhatsApp Business khusus usaha, jangkauan konsumen berpotensi meluas, komunikasi dengan pelanggan menjadi lebih rapi, dan pengelolaan usaha pun terasa lebih profesional.
Selain itu, Ibu Ibah juga dilatih mendokumentasikan produknya sendiri menggunakan kamera ponsel — mulai dari teknik pencahayaan alami hingga pemilihan sudut pengambilan gambar yang membuat produk olahan bandeng terlihat lebih menggugah selera saat dipromosikan secara daring.
Tak dapat dimungkiri, tahap ini menjadi salah satu bagian tersulit dalam keseluruhan program. Sebagai pelaku usaha yang belum terbiasa dengan aplikasi digital, Ibu Ibah membutuhkan pendampingan berulang sebelum akhirnya mampu mengoperasikan fitur-fitur dasar WhatsApp Business secara mandiri.
Produk Jadi, Label Terpasang, Usaha Siap Melaju
Menjelang akhir program, tiga produk olahan bandeng — nugget, kekian, dan sambal — berhasil diproduksi lengkap dengan kemasan, logo, dan label yang telah dirancang bersama. Momen penyerahan produk kepada Ibu Ibah pun menjadi simbol penutup yang menandai keberhasilan seluruh rangkaian pendampingan, sekaligus penanda bahwa usaha rumahan berbasis hasil tambak ini siap dikembangkan lebih jauh.
Indikator keberhasilan program terlihat jelas dari keterlibatan penuh mitra di setiap tahapan kegiatan, hingga kemampuannya mempraktikkan sendiri proses produksi, pengemasan, dan dokumentasi produk tanpa lagi bergantung penuh pada pendampingan tim di pertemuan-pertemuan akhir.
Tantangan yang Masih Menghadang
Meski hasilnya menggembirakan, program ini juga menyisakan sejumlah catatan. Keterbatasan waktu pelaksanaan membuat Ibu Ibah belum sepenuhnya terbiasa mengelola pencatatan keuangan usaha, maupun mengembangkan variasi kemasan secara mandiri. Kemampuannya mengoperasikan aplikasi digital pun disebut masih memerlukan waktu pembiasaan lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Namun di sisi lain, program ini dinilai punya keunggulan tersendiri: memanfaatkan bahan baku dan perangkat yang sudah dimiliki mitra — hasil tambak bandeng dan ponsel pribadi — sehingga tidak membutuhkan modal tambahan yang besar untuk memulai usaha baru.
Melibatkan Keluarga demi Keberlanjutan
Menyadari bahwa keberlangsungan usaha tidak bisa hanya bertumpu pada satu orang, tahap akhir program dirancang dengan melibatkan anggota keluarga Ibu Ibah, khususnya anak dan cucunya yang dinilai lebih akrab dengan teknologi digital. Harapannya, generasi muda dalam keluarga ini dapat melanjutkan pengelolaan pemasaran digital serta pengembangan usaha olahan bandeng setelah masa pendampingan berakhir.
Ke depan, peluang pengembangan usaha ini masih terbuka lebar — mulai dari penambahan varian produk olahan baru, peningkatan kualitas kemasan dan branding, perluasan pemasaran ke platform media sosial lain, hingga pendampingan lanjutan seputar manajemen keuangan usaha.
Kisah Ibu Ibah menjadi gambaran kecil namun nyata bagaimana potensi lokal — dalam hal ini bandeng hasil tambak — dapat diubah menjadi peluang ekonomi baru melalui sentuhan inovasi, kemasan yang lebih menarik, dan pemanfaatan teknologi digital sederhana. Dari dapur rumahnya di Bedanten, sebuah usaha kecil kini melangkah menuju babak baru yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Liputan disusun berdasarkan rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, periode Juni–Juli 2026.
Tim Media Sub Kelompok 6 KKN Untag Surabaya
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































