SURABAYA – Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai salah satu provinsi dengan basis UMKM yang kuat, Jawa Timur terus berinovasi dalam memperluas akses pasar bagi para perajin lokal. Salah satu inovasi strategis tersebut diwujudkan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur melalui DEKS Creative Space yang bertempat di pusat perbelanjaan modern Ciputra World Surabaya. Kehadiran DEKS di tengah pusat gaya hidup urban ini menjadi langkah berani untuk mengubah citra produk wastra, fashion, dan kriya tradisional menjadi produk eksklusif yang sejajar dengan merek internasional. Tidak hanya menjadi etalase regional, DEKS kini telah memperluas jangkauannya ke skala nasional dengan merangkul produk unggulan dari Batam, Pekalongan, NTB, NTT, hingga Makassar.
Namun, di balik megahnya galeri modern ini, tantangan nyata yang dihadapi adalah bagaimana menjaga eksistensi produk tradisional agar tetap relevan di tengah pasar ritel yang sangat dinamis. Untuk menjawab tantangan tersebut, seorang mahasiswa program studi Administrasi Niaga dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melaksanakan program magang selama 50 hari, terhitung sejak 19 Januari hingga 17 Maret 2026. Selama masa magang di unit Operasional dan Digital Marketing, ditemukan sebuah realitas bahwa keberhasilan penjualan produk UMKM sangat bergantung pada sinergi mutlak antara promosi kreatif di dunia digital dan kesiapan operasional yang matang di dalam outlet. Aktivitas harian mahasiswa mencakup pembuatan kalender konten Instagram dan TikTok, produksi video pendek, serta implementasi digital storytelling untuk menarik generasi muda. Di sisi lain, mahasiswa juga terjun langsung mengelola manajemen stok, melakukan kurasi barang masuk, menata visual merchandising, hingga bertugas di meja kasir untuk melayani transaksi konsumen secara langsung.
Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa menyelaraskan promosi siber dengan operasional fisik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada tahap awal, mahasiswa menghadapi kendala adaptasi akibat perbedaan drastis antara atmosfer perkuliahan dan lingkungan kerja profesional. Kompleksitas mulai muncul saat menangani alur operasional barang masuk dari berbagai daerah luar pulau yang jauh. Di meja kasir dan ruang inventaris, mahasiswa yang awalnya masih awam harus berhadapan dengan volume data yang besar dan sistem pencatatan stok yang rumit. Berbagai hambatan teknis kerap ditemui dalam aktivitas harian, mulai dari banyaknya stok gudang yang belum merekap dalam pembukuan, keterbatasan penguasaan rumus Microsoft Excel untuk rekonsiliasi data, hingga penemuan produk display yang memiliki harga berbeda karena adanya miskomunikasi internal. Bahkan, tantangan operasional semakin dinamis ketika volume pelanggan meningkat pada jam tertentu, serta ditemukannya kasus hilangnya pakaian setelan di rak display yang mengharuskan mahasiswa jeli mencari paduan alternatif. Menghadapi hambatan tersebut, tindakan proaktif segera diambil untuk menjaga kelancaran bisnis. Mahasiswa secara konsisten membangun komunikasi dengan pembimbing, mencatat langkah-langkah penting sistem pengkasiran, serta memperdalam pemahaman formula Excel secara mandiri melalui video tutorial. Untuk mengatasi selisih harga dan data, dilakukan verifikasi silang (pemeriksaan berkala) antara buku besar penjualan dengan data digital di Excel, serta melakukan pengecekan fisik langsung ke dalam gudang. Hasilnya, selama 50 hari pelaksanaan, program magang ini memberikan dampak timbal balik yang signifikan. Bagi mahasiswa, tantangan riil ini menjadi laboratorium hidup untuk mengimplementasikan teori Akuntansi Dasar, Sistem Informasi Manajemen, E-Bisnis, dan Etika Bisnis secara nyata. Sementara bagi DEKS Creative Space, kehadiran mahasiswa sangat membantu mempercepat proses administrasi, mendukung efisiensi pelayanan kasir, dan menyumbang ide-ide segar dalam digitalisasi laporan keuangan serta pembuatan konten promosi bulanan.
Sebagai penutup, pengalaman empiris ini memberikan rekomendasi penting bagi masa depan tata kelola komersial UMKM. Agar produk kreatif nusantara dapat terus bersaing di pasar ritel modern, DEKS Integrated Creative Space disarankan untuk memperbarui dan meningkatkan fasilitas teknologi yang digunakan dalam pengelolaan data transaksi. Pembaruan perangkat lunak dan sistem komputer manajemen inventaris yang lebih mutakhir akan meminimalisir risiko kesalahan input, mempercepat pelayanan, serta menjamin alur pelaporan keuangan bagi para perajin mitra di berbagai daerah berjalan secara cepat, akurat, dan transparan. Sinergi antara kebijakan pemerintah, kreativitas lokal, ketertiban operasional, dan adaptasi teknologi inilah yang akan menjadi standar baru dalam memperkuat ekonomi kerakyatan Indonesia di era transformasi digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































