BINJAI – Puisi “Jejak di Bukit Pelangi” karya Helena Cristiani Br Barus menghadirkan kisah petualangan seorang anak bernama Arka yang menjelajahi alam dengan penuh rasa ingin tahu dan keberanian. Melalui suasana pagi yang sejuk, hutan yang rindang, aliran sungai, hingga hujan yang turun di tengah perjalanan, puisi ini menggambarkan kedekatan anak dengan alam sebagai ruang bermain sekaligus ruang belajar yang penuh makna.
Puisi ini terinspirasi dari imajinasi tentang masa kecil yang sederhana namun kaya pengalaman. Alam digambarkan bukan hanya sebagai latar perjalanan, tetapi juga sebagai sahabat yang menemani proses tumbuh seorang anak. Setiap langkah Arka di bukit, suara jangkrik, harum tanah selepas hujan, hingga pelangi di puncak perjalanan menjadi simbol kenangan yang akan terus tinggal di dalam hati.
Melalui bahasa yang puitis dan hangat, Helena Cristiani Br Barus ingin mengajak pembaca merasakan kembali keindahan petualangan masa kecil yang dekat dengan alam. Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa pengalaman sederhana bersama alam mampu membentuk keberanian, rasa syukur, dan kebahagiaan yang tidak mudah dilupakan sepanjang waktu.
Jejak di Bukit Pelangi
(Puisi karya: Helena Cristiani Br Barus)
Embun masih bergelayut di ujung daun,
Ransel kecil memeluk punggung mungil Arka.
Petualangan memanggil desauan angin,
Menyentuh topi yang doyan miring ke kiri.
Sungai mungil berubah jadi titian raksasa,
Jejak Arka meniti batu demi batu, pelan.
Ikan perak melenting, “Kejarlah aku”
Katak di pinggir bertepuk riuh tak henti.
Hutan menuntun lewat bisik dedaun lebar,
Membuka lorong setapak yang meliuk manja.
Ranting patah menjelma tongkat bertuah,
Menunjuk mahkota tupai di dahan rindu.
Tiba-tiba awan menggulung langit jadi kelambu,
Hujan jatuh seperti manik-manik kaca berjatuhan.
Kini Arka pun tertawa riang, menadahkan telapak terbuka,
Menampung rintik, meraciknya jadi kisah.
Di puncak, langit menyibak tabirnya,
Pelangi membentang dari mimpi ke mimpi.
Sekawanan camar menundukkan sayap,
Tabik penjelajah kecil berhati berani
Kini ranselnya menyimpan lebih dari benda
Biji pinus yang bisu, daun berbentuk kasih,
Dengkung jangkrik, harum tanah selepas hujan,
Dan tapak-tapak yang enggan dihapus waktu.
Senja pulang bersarang di pipi Arka,
Ibu menyambut dengan uap sup yang setia.
Ia bercerita, matanya menyalakan kunang,
Sebab petualangan paling nyata tinggal di dada.
Biodata Penulis
Helena Cristiani Br Barus, saat ini, ia sedang menempuh perjalanan akademiknya sebagai mahasiswi aktif di STKIP Budidaya Binjai, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dunia kata dan imajinasi telah menjadi bagian erat dari kesehariannya. Baginya, puisi bukan sekadar susunan bait, melainkan ruang jujur untuk merekam rasa, merawat ingatan, dan menyuarakan hal-hal yang sering kali luput dari obrolan kasat mata. Latar belakang pendidikannya di bidang sastra turut membentuk ketajaman dalam meramu diksi, menghidupkan metafora, dan mengeksplorasi keindahan bahasa Indonesia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































